Badan Narkotika Nasional (BNN) mengatakan, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) karena angka prevalensi pengguna narkoba di kalangan pelajar dan mahasiswa di wilayah itu tertinggi di Indonesia. “Meskipun jumlah pengguna narkoba paling tinggi ada di DKI Jakarta, Kalimantan Timur dan Sumatra Utara, tetapi prevalensi tertinggi untuk pelajar dan mahasiswa yang menjadi pengguna narkoba ada di DIY,” kata Deputi Pemberantasan Narkoba Badan Narkotika Nasional (BNN) Irjen Pol Arman Depari di Yogyakarta, Jumat (7/12).

Hal itu disampaikan Arman saat pelantikan Pengurus Bakornas Garda Mencegah dan Mengobati (GMDM) Jateng-DIY di Yogyakarta, seperti dikutip dari Antara. Pertengahan tahun 2018 BNN Provinsi DIY melansir data, dengan penduduk 3,6 juta, 2,6% di antaranya pengguna narkoba. Arman melanjutkan, tingginya prevalensi pengguna narkoba dari kalangan pelajar dan mahasiswa tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor. Seperti predikat Yogyakarta yang selama ini dikenal sebagai Kota Pelajar.

Menurut dia, dengan kondisi tersebut, DIY menghadapi situasi yang darurat dan harus dilakukan penanganan segera. Tujuannya, agar pengguna narkoba di wilayah tersebut tidak semakin bertambah. Dia memberikan berbagai ilustrasi mengenai dampak yang ditimbulkan dari penggunaan narkoba. Seperti kerugian material yang nilainya mencapai lebih dari dua kali lipat dibanding kebutuhan dana pembangunan. Dia mencontohkan, proyek pembangunan MRT di Jakarta hanya menelan biaya sekitar Rp34 triliun. Lalu, proyek jalan tol trans Jawa dan Sumatera hanya membutuhkan dana Rp30 triliun.

“Tetapi, dana uang dikeluarkan untuk narkoba bisa mencapai Rp82,4 triliun,” katanya.

Selain kerugian yang bersifat material, penggunaan narkoba juga mengakibatkan kerugian di bidang lain. Seperti, meningkatnya angka kejahatan hingga meningkatnya kasus kekerasan dalam rumah tangga. Sementara itu, Ketua Umum DPP Bakornas GMDM Jefry Tommy Tambayong mengatakan dampak buruk penggunaan narkoba bukan hanya isapan jempol tetapi nyata terjadi di sekitar kita. “Kita tidak boleh tinggal diam dan harus bisa mewujudkan Indonesia yang bersinar. Indonesia yang benar-benar bebas narkoba,” katanya.

Setiap saat seluruh pihak harus terus bergerak untuk melakukan pemberantasan narkoba karena korban narkoba terjadi setiap saat. “Bisa dikatakan bahwa narkoba ini adalah musuh tanpa wajah. Perlu kerja sama semua pihak untuk menanggulanginya,” katanya.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Yogyakarta Heroe Poerwadi mengatakan, penyalahgunaan narkoba sudah sampai pada tahap memprihatinkan. Bahkan, menembus kelompok-kelompok masyarakat yang sebelumnya tidak masuk dalam kelompok pengguna narkoba.

“Penanganan tidak hanya bisa dilakukan oleh satu pihak saja tetapi harus dilaksanakan dengan dukungan dari seluruh masyarakat karena penyebaran narkoba sudah menggunakan jejaring yang sangat luas dan terorganisir,” katanya. Karena itu, keberadaan Bakornas GMDM merupakan upaya strategis yang bisa dilakukan untuk meningkatkan peran masyarakat dalam memberantas narkoba.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *